Jumat, 19 Oktober 2012

SENI RUPA MODERN DAN KONTEMPORER


Seni Rupa Modern 
 
A.    Pengertian
Modernisme adalah aliran atau mazhab estetika pembaruan yang mengiringi perkembangan desain dan seni rupa pada umumnya menjelang abad ke-20. Pada perkembangan akhir modernisme, cenderung mengagungkan fungsi menjadi nafas utama paham ini, terbukti hanya menampilkan bentuk kaku, kering dan mengakui seniman sebagai “MANUSIA JENIUS”.

Setiap karya seni modern selalu disertakan nama senimannya tersebut. Karya seni modern cenderung mengedepankan kesederhanaan dan bersifat universal. Seorang seniman modern akan melihat dunia yang sedang dihadapinya sebagai objek lukisan seolah-olah seperti baru saja objek itu diciptakan. Satu syarat yang masih dituntut oleh seni modern dan bahkan menjadi ciri khasnya ialah “kreativitas”.

Bagaimana keterkaitan antara modernisme dengan kontemporer.?
Merujuk kepada apa yang diutarakan oleh Sarah Newmeyer, bahwa seni modern itu boleh jadi berupa gambar bison yang digoreskan 20.000 tahun yang lalu dan boleh jadi juga karya Picasso yang baru saja diselesaikan pagi ini. Dari kedua penafsiran di atas, sangat berbeda dengan seni kontemporer, karena seni kontemporer cenderung diartikan sebagai seni masa kini.

B.    Ciri-ciri dan Unsur Modernisme (Desain dan Seni Rupa)
1.    Ciri-ciri seni modern (Desain dan Seni Rupa)
  • Minimalis
  • Rasionalitas/Rationality
  • Dominant bentuk-bentuk geometris
  • Tidak ada unsur ornament
  • Univeesal
  • Fungsionalitas diprioritaskan
  • Orisinalitas/kemurnian/purity
  • Penguatan dalam konsep
  • Kreativitas 
  • Memutus hubungan dengan sejarah
2.    Unsur-unsur Modernisme
  • Eksperimen
  • Pembaruan (Inovation)
  • Kebaruan (Novelty)
  • Orisinalitas
C.    Fungsi dan Tujuan Seni Modern

1.    Memberi warna baru terhadap kebutuhan manusia baik secara fisik maupun psikis

Fisik :

Munculnya bentuk-bentuk desain arsitektur yang baru dan desain-desain lainnya seperti  alat-alat transportasi, fashion dll

Psikis:
Mengurangi kejenuhan penikmat karya seni, karena muncul berbagai aliran baru  seperti pada seni lukis dan cabang seni lainnya.

2.    Meningkatkan popularitas para seniman, karena seni modern  selalu menyertakan nama senimannya pada setiap karya yang diciptakan.

3.    Memberikan kemudahan masyarakat, karena banyak penemuan-penemuan baru dari hasil eksperimen para seniman modern.
D.    Perbedaan Modernisme dengan Posmodern (Seni Rupa dan Desain)

Sebelum kita membahas perbedaan modernisme dengan postmodern dalam bidang seni, perlu kita ketahui seperti apa ciri dari postmodern. Paham postmodern sangat sulit didefinisikan, tetapi dari segi cirinya, kita dapat membedakan antara modernisme dengan postmodern. 

Paham postmodern menyuarakan penentangannya terhadap kemapanan paham modern yang telah membawa manusia kehilangan jati dirinya, sehingga mengakibatkan msayarakat yang seragam, serba kaku, mengabaikan keanekaragaman budaya bangsa-bangsa di dunia, sedangkan postmodern memberi ruang gerak yang lebih luas terhadap tumbuhnya kebudayaan bangsa-bangsa yang begitu berpariasi.

Berikut adalah beberapa ciri postmodern yang menjadi sumber perbedaaannya dengan modernisme :

  1. Menolak gaya yang tunggal (universal)dan lebih memperjuangkan pluralisme gaya.
  2. Sejarah dan tradisi dihidupkan kembali
  3. Ornamen dan dekorasi dianggap penting
  4. Kontradiksi (menyatu dengan yang lama)
  5. Seni dianggap sebagai bahasa atau system tanda (semiotika)
  6. Tidak mengedepankan fungsi

Dari kedua aliran/paham di atas (modernisme dan postmodern), kita tentu tidak bisa lepas dari paham seni tradisional, karena seni tradisional merupakan sumber dari paham yang ada. Seni tradisional  adalah seni yang dibuat secara turun-temurun sebagai karya kolektif dari sebuah masyarakat. Berikut adalah ciri-ciri dari seni tradisional :

  1. Nama seniman tidak disertakan pada karya, karena dianggap sebagai karya bersama.
  2. Bersifat religius dan magis
  3. Selalu mengacu pada budaya daerah setempat
  4. Ornamen selalu disertakan (diprioritaskan)

Seni Rupa Kontemporer
Antara modern dan kontemporer secara umum tidak dapat dipilah berdasarkan waktu, hal ini mengakibatkan tidak jelasnya pemisah antara kedua istilah tersebut. Instilah modern dan kontemporer dalam konteks seni rupa dijelaskan oleh Kramer dalam Dharsono sebagai berikut:
Pengertian “kontemporer” dibandingkan dengan istilah modern hanya sekedar sebagai sekat munculnya perkembangan seni rupa sekitar tahun 70-an dengan menempatkan seniman-seniman Amerika seperti David Smith dan Jackson Pollock sebagai tanda peralihan.
Pengertian kontemporer dalam bidang arsitektur memiliki pengertian lain, hal ini diungkapkan oleh Kultermann seorang pemikir asal Jerman, “berdasarkan teori Udo pengertian kontemporer dekat dengan paham post-modern… menjelang 1970. Paham baru ini menentang kerasionalan paham modern yang dingin dan berpihak  pada simbolisme instink” .Dalam istilah seni pengertian ini ditafsirkan lebih lajut oleh Douglas Davis kontemporer sebagai kembalinya upaya mencari dan mengangkat nilai-nilai budaya dan kemasyarakatan atau dalam istilah seni kembali ke konteks.
Seperti telah kita ketahui, seni kontemporer dalam bahasa Indonesia padanannya adalah “seni masa kini” atau juga “seni mutakhir”. Dalam khazanah seni modern yang telah berusia ratusan tahun, kehadiran seni kontemporer cukup rumit dan menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan.
Istilah seni kontemporer pada hemat saya justru banyak menimbulkan kebingungan. Istilah seni kontemporer dalam arti seni masa kini sepanjang yang telah saya selusuri, sudah muncul sejak tahun 50-an. Pada waktu itu, karya seni masa kini hanya menyangkut nama-nama Picasso, Matisse, Braque dan lain-lain yang tidak bisa disebut satu persatu apakah tidak mengherankan jika pada tahun 1996 kita harapkan kepada bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan tokoh-tokoh yang berbeda pula, namanya masih tetap sama yaitu seni kontemporer apa sebenarnya yang mempertautkan seni kontemporer tahun 50-an yang diwakili Picasso dan kawan-kawannya dengan seni kontemporer di tahun 1996 yang diwakili Pop art, Happening art dan seni instalasi, dan sebagainya saya rasa, inilah yang membingungkan dengan memakai istilah seni kontemporer karena setiap ungkapan seni 10, 20, 50, seratus tahun yang lalu atau yang akan datang, pada zamannya yang bersangkutan tetap merupakan seni kontemporer. Seperti juga waktu yang akan datang dan pergi, juga ungkapan seni dari waktu ke waktu yang akan dan pergi masing-masing mempunyai  bentuk, sifat dan kecenderungan  masing-masing yang saling berbeda satu sama lain,  bahkan sering tidak ada kaitan dan kebersamaan titik tolaknya. Periode berikutnya adalah pendobrakan yang lengkap terhadap asas-asas seni rupa tradisi Barat. Bahkan, akhirnya pendobrakan ini semakin beraneka ragam. Dipengaruhi oleh semangat individualisme dengan jumlah pelukis yang semakin banyak maka seni kontemporer ini semakin dipadati oleh seni individual di mana setiap seniman berusaha untuk saling berbeda satu sama lain.
Ditinjau dari sudut ini seni kontemporer bukanlah konsep tetap. Seni kontemporer adalah dimensi waktu yang terus bergulir  mengikuti perkembangan masyarakat dengan zamannya.
Kiranya hanya satu indikasi yang bisa dijadikan titik terang istilah seni kontemporer, yakni lahir dan berkembang dalam khazanah dan ruang lingkup seni modern. Hal ini di pertegas dalam buku AWAS! Recent art from Indonesia: Seni rupa kontemporer muncul setelah seni rupa modern.
…”berlangsungnya perayaan ‘Boom seni lukis’ di akhir tahun 80-an dan awal akhir 90-an…seniman bergerak cepat menembus, melintas batas-batas tradisional negara yang membatasi identitasnya. Kelangsungan seni rupa kontemporer…tidak lagi mengusung semangat hebat, pemberontakan dan penyangkalan seperti pendahulunya di tahun 70-an (seni modern) tetapi melangsungkan negosiasi  dengan berbagai senimanan baru, perubahan-perubahan yang serba cepat, peluang dan tentunya juga gemerlapnya pasar Untuk melengkapi batasan antara modern dan kontemporer dalam seni rupa, penulis (Senin, 17 Januari 2005) berhasil menghubungi Setiawan Sabana (pendidik, perupa, dekan FSRD ITB). Ia mengungkapkan, sesuai dengan hasil penelitiannya mengenai “Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara” yang dilakukannya selama 4 tahun, bahwa yang membedakan antara seni rupa modern dan kontemporer sebagai berikut:
1. Seni rupa modern
-        memutuskan rantai dengan tradisi masa lalu, pada masa ini tradisi tidak menjadi perhatian yang signifikan dan itu dianggap sebagai seseuatu yang tidak perlu diotak-atik lagi tapi cukup dalam musium saja,
-        adanya high art dan low art ( kesenian dianggap adiluhung),
-        tema-tema sosial cenderung ditolak, dan
-        kurang memperhatikan budaya lokal.
2. Seni rupa kontemporer
-        tradisi dicoba untuk diangkat kembali misalnya tema lebih bebas dan media lebih bebas,
-        tema-tema sosial dan politik menjadi hal yang lumrah dalam tema berkarya seni,
-        baurnya karya seni adiluhung/high art dan low art,
-        masa seni rupa modern kesenian itu abadi maka masa kontemporer kesenian dianggap kesementaraan,
-        dulu ada istilah menara gading sekarang kesenian merakyat, jadi tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu/harus bertahan, dan
-        budaya lokal mulai bahkan menjadi perhatian.
Selanjutnya ia menyimpulkannya bahwa fenomena seni rupa kontemporer Indonesia merupakan suatu refleksi, pencerminan evaluasi kembali, sikap evaluatif dan pencarian akan potensi-potensi kultural yang baru di negeri ini  dan  merupakan bentuk kesadaran baru dalam era global.
Seni Rupa Indonesia
Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa.
Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif  semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997….  Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman pertama kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni lukis Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, dari hasil pendidikan tersebut R. Saleh melahirkan dua karyanya yang sangat terkenal sampai saat ini yaitu “Antara Hidup dan Mati” dan “Hutan Terbakar” serta beberapa potret keluarga raja-raja Jawa dan pejabat pemerintahan Belanda.
Kasus lain yang hampir serupa terjadi setelah meninggalnya R. Saleh (1880). Munculnya tokoh pelukis yang mengenyam pendidikan dari Belanda yaitu Abdullah Suryosubroto (1900-an). Ia pada awalnya dikirim ke negeri Belanda oleh Wahidin Sudirohusodo untuk menuntut ilmu kedokteran namun tanpa sepengetahuan ayahnya ia malah belajar pada akademi seni rupa. Ia kemudian pulang ke Indonesia menjadi pelukis besar dan menetap di Bandung.  Sejak wafatnya R. Saleh (1880) sampai pada munculnya Abdulah Suryosubroto (1900-an) konteks dunia seni rupa Indonesia seperti mengalami “rantai terputus”.
Mooi Indie” (seni lukis pemandangan) merupakan masa awal perkembangan seni rupa Indonesia setelah wafatnya R. Saleh. Tumbuhnya Mooi Indie merupakan pengaruh pengusaha dan para pedagang masa kolonialisme tahun 1930-1938. Melihat keadaan alam di Indonesia yang indah dan permai menyebabkan para pengusaha pada waktu itu sangat menyukai objek-objek keindahan alam, sehingga lahir pelukis-pelukis pemandangan, diantaranya Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi. Hal ini ditegaskan oleh Sanento Yuliman sebagai berikut:
Pada awal abad dua puluh terbentuklah konsumen lukisan pemandangan  alam di Indonesia, yaitu saudagar, pengusaha, pegawai Belanda dan para wisatawan…semua menginginkan kenang-kenangan alam Indonesia…karena kebanyakan pelukis pada masa itu memang senang melukis pemandangan alam. Kesenangan itu…beserta hasil penjualan…bagi pelukis merupakan imbalan yang cukup…Pelukis Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi meluangkan banyak waktu…pergi ke tempat sepi di lereng gunung Tangkuban Parahu, kaki Merapi, pantai Pelabuhan Ratu dan di Ngarai Sianok merenungi pemandangan alam dan dengan tekun melukisnya (Sanento Yuliman)
Mooi Indie memiliki karakter dan teknik pewarnaan yang berbeda dengan masa R. Saleh.   Pewarnaan karya seniman Mooi Indie lebih menyala baik pada objek alam, binatang maupun manusia. Tokoh-tokoh masa Mooi Indie selain Abdullah Suryosubroto, Wakidi dan Pringadi yaitu Basuki Abdullah dan pelukis lainnya. Mereka melukis pemandangan dengan teknik yang biasa dilakukan dan diajarkan di akademi seni rupa negeri Belanda berdasarkan ketentuan lazim, yaitu  memperhitungkan perspektif/ruang dan teknik pewarnaan yang ditonjolkan.
Dengan aturan-aturan seperti di atas Sudjojono (salah satu murid Pringadi) merasa tidak punya kebebasan, sebab menurutnya melukis harus terbebas dari kaidah-kaidah agar gejolak jiwa bisa tercurahkan sebebas-bebasnya. …lukisan tidak diukur dari kecepatan dalam melukiskan objek tetapi bagaimana menuangkan intensitas kegemasan garis-garis yang disapukan pada kanvas, ujar Sudjojono (Sanento Yuliman, 2001:82). Sudjojono tetap konsisten pada keyakinannya hingga tahun 1937 ia berhasil mengikuti pameran bersama orang-orang Eropa. Pada tahun 1938 ia menjadi tokoh dan penggerak Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang diketuai oleh Agus Djaya. Perkumpulan ini dirintis sebagai kesatuan pelukis-pelukis untuk melahirkan lukisan corak Indonesia dengan konsep “melukis tidak semata-mata berbekal keterampilan teknis, tetapi memerlukan pandangan hidup dan visi seni yang luas dan mendalam”. Namun akhirnya PERSAGI bubar ketika kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang Pada bulan Maret 1942.
Jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang bukan hanya suatu kemenangan militer saja, tetapi bangsa Indonesia lebih melihat peristiwa ini sebagai kemenangan kepercayaan akan harga diri bangsa Asia terhadap bangsa Barat. Ini dipaparkan oleh A.D. Pirous bahwa:
Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu dirasakan sebagai “saudara tua” yang melepaskan kekuasaan penjajahan Belanda yang diterima dengan semangat persaudaraan yang erat. Jepang yang juga unggul dalam kebudayaan, diharapkan dapat membantu mengembangkan kebudayaan Indonesia, harapan ini jadi lebih diyakini, ketika pemerintah Jepang menampakan perhatiannya yang besar terhadap persoalan-persoalan kebudayaan (AD. Pirous 2003:3).
Pada masa pendudukan Jepang seni rupa Indonesia mendapatkan perhatian yaitu dengan disediakannya alat-alat dan tempat untuk melukis sehingga terselenggara pameran lukisan pertama pada bulan September 1942. Tapi sayangnya karya-karya yang dibuat hanya sebagai propaganda pemerintahan Jepang yaitu dengan bertemakan kehebatan pemerintahan Jepang.
Puncak campur tangan pemerintahan Jepang dapat dicatat pada bulan April tahun 1943 atau setahun setelah masa pendudukan. Jepang membentuk suatu badan kebudayaan yang diberi nama “Keimin Bunka Sidosho” dengan kontrol di bawah seniman Jepang yaitu Saseo Ono, di dalamnya tetap terdapat propaganda pemerintahan Jepang. Akan tetapi oleh para seniman lokal “Keimin Bunka Sidosho” dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berlatih secara teratur dengan literatur dan peralatan yang ada, mereka mengadakan ceramah/diskusi tentang seni rupa dengan sedikitnya memberikan pandangan-pandangan baru tentang perkembangan kesenian (seni rupa) Indonesia. Di pihak lain Indonesia mendirikan “Poetra” yang dalam bagian seni rupanya dipimpin oleh S. Sujoyono dan Affandi.
Selain mengabdi pada bidang seni, seniman-seniman lokal berjuang melawan pemerintahan Jepang lewat lukisan dan poster, dengan jiwa nasionalisme pada saat itu sebagai contoh lukisan Affandi menyindir pekerja romusha dengan badan kurus dan pakaian compang-camping, demikian juga poster dengan model pelukis Dullah, teks oleh Khairil Anwar “Boeng Ajo Boeng” direproduksi dan disebar lewat gerbong-gerbong kereta api.
Uraian singkat di atas tidak menggambarkan secara detail tentang sejarah, penulis hanya menulis apa yang dianggap penting. Namun yang terpenting kita telah mendapatkan benang merah sebagai bukti kuat tentang pengaruh Barat terhadap perkembangan seni rupa modern Indonesia. Hal tersebut mengingat apa yang diungkapkan oleh  Prof. Huizinga seorang ilmuwan sejarah yang dikutip kembali oleh Moh. Hatta;”…Bahwa sejarah bukanlah menuliskan selengkap-lengkapnya fakta yang terjadi pada masa lampau yang tidak mungkin ditulis lengkap oleh manusia, sejarah memberi bentuk kepada masa yang lalu supaya roman masa lalu itu jelas tergambar di muka kita” (Khalid Zabidi 2003:22).
Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia. Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya: “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)
Perkembangan Seni Rupa  Bandung
Melihat sangat luasnya ruang lingkup seni rupa maka penulis dalam hal ini hanya akan membeberkan perkembangan seni murni saja karena mengingat seni murni dianggap sebagai pencetus awal modernisasi seni rupa Indonesia.
Perkembangan seni rupa Bandung ditandai dengan munculnya kelompok seni rupa Hindia Molek atau “Mooi Indie”  kelompok ini banyak menggambarkan lukisan-lukisan yang bertemakan pemandangan alam yang indah dan objek manusia. Ini dipertegas oleh Sudarmaji bahwa:
Masa ‘Hindia Jelita’, atau masa ‘Hindia Indah’, atau ‘Mooi Indie’, apapun namanya, masa itu merupakan masa yang menonjolkan sesuatu sifat yang diakibatkan sebagai suatu cara melihat dan memandang dunia sekelilingnya  dari aspek visualnya. Para seniman  pada masa ini memandang gejala sekelilingnya dari sudutnya yang molek, yang cantik, indah, permai dalam memuja alam Indonesia, terutama gunungnya, laut, sawah, bunga-bunga, manusia terutama gadis-gadis Indonesia yang cantik (Dharsono, 2004:143).
Kelompok ini muncul tentu tidak lepas dari pengaruh pelukis Barat (penjajah) yang melukis bertaraf hanya sebagai hobi atau kesenangan belaka. Hindia Molek atau “Mooi Indie” adalah sebuah perkembangan seni rupa sebelum lahirnya PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Semenjak dari masa itu perkembangan seni rupa atau bahkan kebudayaan di Indonesia merupakan perkembangan yang terlepas dari seni rupa prasejarah bahkan hal ini merupakan pembuka babak baru seni rupa modern Indonesia. Sekitar tahun 1908-1937 pelukis-pelukis “Mooi Indie” banyak memilih tempat untuk menetap di Bandung ini disebabkan karena alam keindahan Bandung merupakan objek yang sangat mendukung  dalam berkarya rupa pada saat itu, misalnya Abdullah Suryosubroto ia memilih Bandung yang akhirnya ia menetap di sana dengan alasan karena banyak orang asing bermukim yang merupakan konsumen utama seni lukis baru. Namun yang lebih penting bahwa Bandung merupakan letak yang strategis  karena berada di tengah-tengah alam raya yang indah dengan dikelilingi gunung-gunung  yang merupakan sorga bagi seorang pelukis “Mooi Indie”.
Rentang pandang kebiruan kaki langit dengan puncak gunung diselimuti awan tipis, mainan cahaya disela-sela bambu dan hutan belantara serta keelokan jalan atau sungai yang mengalir jernih menawan, melingkar di antara semak-semak dan pepohonan berlumut yang dipadu dengan hamparan sawah yang belum ditanamai. Bentang alam pegunungan yang tampak menghijau laksana lautan hijau mengepung gunung, di bawah sinar matahari pagi dengan senyum awan tipis lukisan Abdullah Suryosubroto mampu membawakan rasa keharuan dan perasaan tentram, yang telah hilang ditelan hiruk keramaian kota. Tidaklah mengherankan apabila lukisannya banyak diminati  orang-orang asing dan orang-orang Indonesia sendiri (Kusnadi dalam Dharsono, 2004:144).
Seni rupa Bandung merupakan salah satu muatan seni rupa modern dan kontemporer di Indonesia. Kalau kita lihat ke belakang hingga munculnya Pelukis Lima Bandung tentulah kita akan dapat menyimpulkan bahwa Bandung merupakan motor pergerakan seni rupa Indonesia dari pra-kemerdekaan, pasca kemerdekaan hingga sekarang. Seniman lainnya yang seangkatan dengan Abdullah Suryosubroto sebagai pengisi masa “Mooi Indie” yaitu Sukardji dan Kendar Kerton yang kemudian disusul oleh kelompok Lima Bandung yang aktif pada tahun 1935-1940 yaitu Affandi, Barli, Wahdi, Sudarso dan Hendra. Mereka semua merupakan seniman yang hidup dan berjaya di masa Kolonial hingga sekarang. Dengan pendidikan dari Belanda para pelukis Bandung masa lalu telah bisa membaca literatur Barat  antara lain gambar reproduksi  karya seniman Barat yang terkenal pada waktu itu.

Masa Pendidikan Tinggi Tahun 1947-1960-an
Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa di Bandung, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan di antara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.
Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.
Kemudian lembaga yang mencetak guru seni rupa selanjutnya dikelola oleh FKIP-UNPAD (sejak 1961) dan kini lembaga pendidikan guru seni rupa  tersebut berada pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan kerajinan IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)
Seni Rupa Bandung Tahun 1970-1980-an
Masa 70-an, ditandai oleh maraknya pembangunan di sektor ekonomi, hal ini ditandai dengan masuknya penanaman modal asing sehingga memajukan roda industri dan perekonomian. Pertumbuhan perekonomian menimbulkan krisis sosial sehingga mendorong timbulnya berbagai ketimpangan sosial. Hal ini dijelaskan oleh A.D. Pirous sebagai berikut:
Perkembangan ekonomi yang mengalami pertumbuhan, melahirkan berbagai ketimpangan yang mendorong pergolakan sosaial dan politik, seperti misalnya kasus “malari” pada 1974, serta gelombang protes dan demonstrasi mahasiswa (A.D Pirous, 2003:172).
Suasana seperti itu berimplikasi pada  ruang seni rupa, yaitu ditandai dengan lahirnya gaya seni yang mengarah pada nilai-nilai spiritual dengan lahirnya lukisan-lukisan yang bernafaskan ke-Islaman seperti kaligrafi. Hal ini terus berkembang sehingga bermunculan seniman-seniman kaligrafi. Ini ditegaskan dengan jelas oleh A.D. Pirous:
Berbagai pameran yang diikuti banyak seniman dengan beragam gaya, dari kecenderungan gaya ekspresif seperti: Affandi, dan Amri Yahya di Yogya, serta gaya meditatif dari Ahmad Sadali, A.D. Pirous, A. Subarna dari Bandung, hingga gaya surealistis seperti Saiful Adnan dari Yogya yang juga kuat memperkaya ragam bahasa visual seni lukis kaligrafi Islami … (A.D. Pirous, 2003:173)
Tumbuhnya perekonomian di Indonesia Era 80-an mendorong timbulnya kegiatan berkesenian yang  mengakibatkan lahirnya sejumlah kolektor, galeri, art dealer dan lain-lain, kemudian disusul pembangunan perkantoran, hotel, real estate atau perumahan. Sehingga melahirkan kebutuhan barang seni sebagai elemen estetiknya. Ardiyanto (1998:55) menyebutkan …frekuensi penjualan lukisan dan pesanan patung mengalami lonjakan yang fantastis dan dengan sendirinya banyak seniman yang hidupnya berkecukupan, sehingga tidak salah jika G. Shidarta dalam makalah diskusi dalam pameran ASEAN ke-3 di Jakarta mensinyalir bahwa kecenderungan besar di mana seniman (seni) mengabdi kepada kekuatan ekonomi.
Realitas lain para perupa pemberontak pada masa ini mayoritas muncul dari kalangan mahasiswa akademi seni rupa di Bandung, mereka menganggap bahwa lembaga tempat menimba ilmu dinilai kaku, konservatif dan tidak progresif dalam menyikapi perkembangan seni rupa Indonesia. Pendek kata lembaga pendidikan seni rupa tidak dapat mengakomodir berbagai gagasan, motivasi atau keinginan kaum muda ( Ardiyanto, 1998:55).
Karya-karya yang dilahirkan pada masa ini tidak lagi memperhatikan nilai-nilai estetik dan mengejar wilayah artistik baru bahkan keluar dari wilayah dengan kode khusus, mereka menganggap praktek eksplorasi artistik sebagai ciri modernisme tidak dianggap penting. …pencarian esensi ekspresi, eksplorasi media, perkara orisinalitas, pencarian teknik baru tidak dipersoalkan pada karya-karya di era tahun 80-an… (Jim Supangkat dalam Ardiyanto, 2003:56).
Praktek seni rupa yang mempunyai kecenderungan menyimpang ini antara lain seperti karyanya Acep Zam-zam Noor, Irwan Karseno dengan mengangkat isu seks kemudian tokoh lainnya seperti Tisna Sanjaya dan Kristiawan, menyelenggarakan pameran gambar di sepanjang jalan Cikapundung-Bandung.
Pemilihan ruang publik tidak saja dikarenakan perkara ukuran yang relatif lebih besar namun secara tidak disadari hal ini jadi lebih dekat dengan lahirnya karya seni yang dapat diapresiasi oleh masyarakat khususnya warga kampus ini dilakukan oleh mahasiswa seni rupa IKIP Bandung (sekarang UPI) angkatan 1981 mereka mendobrak bahwa karya itu tidak selalu individual. Peristiwa ini sempat menjadi polemik dan kekalutan pada masyarakat kampus (Ardiyanto, 1998:62).
Seni Instalasi
Munculnya seni instalasi berasal dari perkembangan salah satu teknik dalam seni rupa (patung) yaitu asemblasi. Asemblasi sendiri berasal dari perkembangan aliran Kubisme (Picasso dan Braque), ditambah dengan semakin gencarnya pengaruh Dadaisme, Surealisme dan Conseptual Art/Seni Konseptual.
Dalam buku Art Speak Robert, A. (1990:90), menyebutkan bahwa seni instalasi dunia pertama kali muncul pada era pop art (1950-1970-an) dengan tokoh-tokohnya: Judy Pfaff dengan karyanya yaitu membuat taman bawah laut dari ribuan berbagai jenis sampah dengan sangat fantastik. Tohoh lainnya Daniel Buren membuat instalasi garis-garis yang diaplikasikan  pada struktur-struktur yang diuraikan dengan  penempatan mereka pada karakter fisikal atau sosial dari tempat itu.
Adapun artian harfiahnya (asal kata install = memasang, installation = pemasangan), jadi seni instalasi merupakan seni yang memasang, menyatukan, memadukan dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Lebih spesifiknya instalasi adalah memasang, merakit, komponen-komponen benda seni maupun benda lain (bentuk di luar konteks seni rupa). Adapun pengertian instalasi yang diungkapkan oleh Setiawan Sabana bahwa, instalasi adalah sebuah perakitan komponen-komponen dalam karya seni yang dulu dipisahkan seperti patung, lukis, grafis dan keramik.
Sejarah Singkat Seni Instalasi Asia Tenggara
Pada pertengahan tahun 1970-an banyak dilakukan percobaan seni kontemporer yaitu di Thailand, Singapura termasuk Indonesia. Tetapi yang berani melakukan percobaan ini hanya sekelompok kecil seniman.
Pada tahun 1990-an didirikan suatu komunitas instalasi di Asia Tenggara yang diberi nama “Forum Seni Internasional”. Tidak dapat kita pungkiri instalasi ini memang merupakan pengaruh dari Barat. Adanya seni instalasi seolah-olah merupakan zaman renaissance di Asia Tenggara, namun lamakelamaan instalasi dapat diadopsi oleh para seniman Asia Tenggara karena dirasakan cocok dengan konteks sosial budaya Asia Tenggara. Julie Ewington “Art and Asia Pacific” (1995:110).
Sejarawan Thailand yang bernama Somporn Rodboon mengatakan bahwa “tidak ada keragu-raguan lagi …pengaruh instalasi datang dari Barat”. Para seniman di Asia Tenggara selalu mengadakan hubungan dengan koleganya (teman bisnis) melalui kegiatan pameran dan konfrensi salah satu kolega mereka adalah Andi Goldsworthy, ia sering berada di Filifina pada pertengahan tahun 1993. Andi Goldsworthy merupakan seorang seniman yang karyanya banyak menggunakan bahan-bahan alami.
Seni instalasi dibangun dengan harapan bisa menafsirkan seni kontemporer yang cocok dengan wilayah Asia Tenggara. Tradisi kebudayaan pribumi Asia Tenggara seperti upacara-upacara ritual keagamaan (tradisi) merupakan sumber daya  bagi perkembangan seni instalasi yang berpengaruh pada karya instalasi di Asia Tenggara.
 Perkembangan Seni Instalasi di Indonesia
Munculnya seni instalasi di Indonesia paling tidak sejak munculnya Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1975-1979. …bertujuan meruntuhkan definisi seni rupa yang terkungkung oleh seni patung, lukis dan seni grafis, serta anti elitisme, seperti tampak karya-karya mereka… (Ahda Imran,: 2004).
Munculnya keberadaan seni instalasi  pada masa gerakan seni rupa baru Indonesia  ini dijelaskan pula oleh Mikke Sutanto sebagai berikut:
…perkembangan seni instalasi di Indonesia disemai dari pameran seni yang diadakan oleh kelompok seni rupa baru  yang kemudian gencar disebut  Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1975). …ketika pameran ini berlangsung pada saat itu sebutan instalasi belum ada hingga Sanento Yuliman, seorang kritikus seni  menggunakan kata “instalasi” pada tahun 1989 (Mikke Sutanto, 2003:118).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar